Pages

Pemberitahuan

Update dan postingan baru dari blog ini bisa anda temukan di Accounting-Financial-Tax.com. Di situs yang baru ini makin banyak topik di bahas, berbagai accounting standard, concept dan contoh kasus yang bervariasi. Dengn ciri khas yang sama: detail, mendalam, dan practical. Diupdate setiap hari, termasuk perkembangan terkini dari international accounting standard [IAS], International Financial Reporting Standard [IFRS], GAAP Codification [ASC], Auditing Standard, dll. Dan, semuanya disajikan dengan interface yang lebih user friendly, clear navigation yang mengkaitkan antara satu topic dengan topic lain, dengan tingkat accuracy yang selalu dievaluasi dari waktu ke waktu.

"Accounting theories and concept" adalah penting, akan tetapi apalah artinya concept dan theory jika tidak diwujudkan dalam tingkatan implementasi.

Per 2011, saya juga aktif menulis di JurnalAkuntansiKeuangan.com yang di launch baru-baru ini, meskipun tak cukup sering.

Nov 9, 2007

PENGAKUAN & PELAPORAN ATAS TRANSAKSI MATA UANG ASING

Alur Akuntansi Atas Transaksi Mata Uang Asing


Pada dasarnya, alur akuntansi atas transaksi bermata uang asing adalah sebagai berikut :

Pada saat terjadinya transaksi pertama kalinya, nilai transaksi diakui atau dicatat sebesar nilai fakturnya (invoice)

Pada setiap pelaporan, transaksi tersebut di translasikan dengan mengkonversikan nilai transaksi tersebut ke dalam mata uang fungsionalnya (Rupiah) sesuai dengan metode konversi yang dipergunakan, pada saat ini akan diakui KEUNTUNGAN atau KERUGIAN (SELISIH) KURS, yang dalam bahasa inggrisnya disebut Currency Gain/Lost.

Pada saat pembayaran (pelunasan) atas transaksi tersebut (baik itu berupa transaksi atas aktiva maupun kewajiban), nilai transaksi bermata uang asing tersebut akan disetarakan lagi dengan mengkonversikannya menjadi mata uang fungsional (Rupiah). Proses konversi ini akan mengakibatkan adanya KEUNTUNGAN atau KERUGIAN (SELISIH) KURS (Currency Gain/Lost).

Contoh :

Tanggal 31 Januari, sebuah perusahaan di Indonesia membeli barang dagangan dari Amerika dengan nilai invoice USD 1,000.00, Tutup buku fiskal pada tanggal 20 Maret, dan pembayaran akan jatuh tempo pada tanggal 30 April, dan

Sementara itu situasi nilai tukar pada saat itu digambarkan sebagai berikut :

28 Pebruari, 1 USD = Rp 9,000,-
20 Maret, 1 USD = Rp 9,100,-
30 April, 1 USD = Rp 9,200,-

Atas Transaksi diatas, dapat dicatat dengan jurnal entry :

Pada tanggal pembelian (28 Pebruari) :

[Debit] : Pembelian = Rp 9,000,000,-
[Kredit] : Hutang Dagang = Rp 9,000,000,-

Pada saat tutup buku fiskal (20 Maret) :
Nilai tukar telah berubah, rupiah terdepriasi sebesar Rp 100,- / 1 USD, sehingga perusahaan mengalami kerugian sebesar Rp 100 x 1000 = Rp 100,000. Ini diakui sebagai kerugian kurs, dan disesuaikan dengan jurnal :

[Debit] : Kerugian (Selisih) Kurs = Rp 100,000,-
[Credit] : Hutang Dagang = Rp 100,000,-


Sedangkan pada saat hutang jatuh tempo :
Rupiah terdepresiasi Rp 200,-/1 USD dibandingkan saat pembelian dilakukan, Jurnal atas pelunasan hutang ini menjadi :

[Debit] : Hutang Dagang = Rp 9,000,000,-
[Debit] : Kerugian (selisih) Kurs = Rp 200,000,-
[Credit] : Kas = Rp 9,200,000,-


Saat Pengakuan Keuntungan atau Kerugian Kurs

Dari contoh di atas, jika diperhatikan baik-baik, maka jelaslah KEUNTUNGAN atau KERUGIAN (Selisih) KURS DIAKUI PADA PERIODE DIMANA KEUNTUNGAN ATAU KERUGIAN TERJADI. Dalam contoh di atas kerugian kurs diakui :

Pada Laporan Fiskal, kerugian kurs diakui sebesar Rp 100,000 saja yaitu pada tanggal penutupan buku fiskal (20 Maret).

Pada Laporan Komersial, kerugian kurs diakui sebesar Rp 200,000 pada saat pelunasan (pembayaran) dilakukan (30 April)


Author’s Note :

Di akhir tahun buku, secara konsep sesungguhnya perusahaan
memiliki 3 (tiga) pilihan :

1). Mengabaikan fluktuasi nilai tukar (akan tetapi, pilihan ini adalah pilihan berbahaya)

2). Melakukan penyesuaian (membuat adjustment) atas nilai pembelian, yang biasa disebut PENDEKATAN SATU TRANSAKSI (akan tetapi tindakan ini, akan membuat laporan menjadi tidak mencerminkan kejadian ekonomi yang sesungguhnya).

3). Atas perubahan nilai tukar mata uang fungsional (Rupiah) kepada mata uang asing, disamping mengkui adanya utang, juga diakui adanya keuntungan atau kerugian (selisih) kurs, yang biasa disebut sebagai PENDEKATAN DUA TRANSAKSI. (Pilihan inilah yang paling relevan).


Pelaporan Keuntungan Kurugian (Selisih Kurs)

Dimanakah keuntungan atau kerugian (Selisih Kurs) di kelompokkan ?.

Karena dalam hal ini, keuntungan atau kerugian kurs terjadi akibat adanya fluktuasi nilai tukar mata uang fungsional (Rupiah) terhadap mata uang asing (dalam contoh di atas adalah USD), dimana atas keuntungan atau kerugian kurs tersebut mempengaruhi arus kas masuk atau keluar, maka :

KEUNTUNGAN atau KERUGIAN (Selisih) KURS di kelompokkan ke dalam PENDAPATAN LAIN-LAIN (OTHER REVENUE)

KEUNTUNGAN atau KERUGIAN (Selisih) KURS menjadi ELEMEN PENAMBAH/PENGURANG atas PENDAPATAN BRUTTO, yang akan menghasilkan PENDAPATAN NETTO.

Hubungannya dengan Harga Pokok Penjualan (Cost Of Good Sold) ?

NONE, ZERO, ZIL, ZALDA, KAGA ADE, TAK ADA, TAK ADO, ORA ONO” :) :) :)


Author’s Note :

Hati-hati, bedakan TRANSAKSI dengan TRANSLASI :

TRANSAKSI : Kejadian ekonomi yang sungguh-sungguh MEMPENGARUHI ARUS KAS.

TRANSLASI : Hanyalah PERUBAHAN PENGAKUAN NILAI atas ASSET maupun LIABILITIES, akibat adanya KONVERSI
NILAI.

Kabar gembira bagi yang ingin mendalami lebih lanjut mengenai FOREIGN CURRENCY ACCOUNTING, segara akan hadir artikel : TRANSLASI LAPORAN KEUANGAN MATA UANG ASING, mengenai bagaimana mentranslate (saya pakai istilah MENGKONVERSIKAN) laporan keuangan ber mata uang asing. Untuk semua elemen laporan keuangan yang perlu disoroti, mulai dari penjualan, pembelian, COGS sampai dengan perolehan aktiva tetap dan retained earning. Akan diposting secara bertahap. Dimulai dengan : TRANSLASI HARGA POKOK PENJUALAN (COGS) [-baca-] setelah BONUS : HEDGING dibawah

BONUS : HEDGING (Antisipasi Terhadap Fluktuasi Kurs)

Jika diartikan secara harfiah, HEDGE = Pagar / Tameng

Dalam Financial, HEDGING diartikan sebagai tindakan untuk memindahkan resiko akibat dari fluktuasi kurs (atau suku bunga, atau harga).

Jika saja HEDGING benar-benar berfungsi secara efektif, maka seharusnya KEUNTUNGAN atau KERUGIAN KURS tidak akan terjadi, dan tidak perlu dipusingkan oleh pengakuan (pencatatan) maupun disclosure-nya.


Adapun Hedging yang direkomendasikan untuk mengatasi fluktuasi kurs adalah INSTRUMEN KEUANGAN DERIVATIVE, yaitu Kontrak Pertukaran yang Dimajukan (FORWARD EXCHANGE CONTRACT).

Teknisnya, institusi keuangan setuju untuk menetapkan suatu nilai tukar mata uang yang disepakati untuk dimasa depan yang telah disepakati pula.

Contoh : Bank Devisa (dimana rekening perusahaan) menyetujui perusahaan untuk hedging nilai Tukar Rupiah terhadap USD adalah Rp 9000,- sampai dengan tanggal 30 April, Jika saja pada contoh kasus pembelian barang dagangan diatas perusahaan melakukan hedging, maka kerugian kurs sebesar Rp 200,000 tersebut tidak akan terjadi. Pengakuan currency gain lost pun tidak perlu terjadi.

Author’s Note :

Disatu sisi HEDGING akan meminimalisasi atau bahkan mengeliminasi kemungkinan terjadinya kerugian kurs, di sisi lainnya, perusahaan juga kehilangan kesempatan untuk memperoleh KEUNTUNGAN KURS. Jika Fluktuasi nilai tukar benar-benar menjadi masalah bagi perusahaan, lakukanlah HEDGING, Jika :

IMPORTER : nilai tukar uang fungsional (Rupiah) cenderung melemah, LAKUKANLAH HEDGING, jika sebaliknya, maka jangan lakukan.

EXPORTER : nilai tukar uang fungsional (Rupiah) cenderung menguat, LAKUKANLAH HEDGING, Jika sebaliknya, jangan lakukan.


Good Luck :-)
Artikel Lain Yang Terkait : TRANSLASI HARGA POKOK PENJUALAN (COGS) [-baca-]

11 comments:

  1. Thax bngt bwt Pak Putra yang udah bkin blog ini. Saya kebantu banget karena tgs akhir yang mau saya bwt jdulnya "Analisis Perlakuan Keuntungan atau Kerugian akibat translasi valuta asing dalam laporan keuangan pada PT.X".

    Sebenarnya saya masih agak bingung. Pertanyaan2 sperti: apa aja yg saya perlu dalam melakukan analisis ini (selain laporan keuangan)?, apa yg prtama kali hrs saya kerjakan? dan gmana thap2 selanjutnya? masih buram di byangan saya.

    Maklumlah, sya msh amatir. Lagipula sya hanya mendpt kesempatan 3 jam mata kuliah (45 menit/jam mata kuliah) untuk diterangkan tentang translasi valas (yg langsung membuat sya tertarik untuk mendalaminya).

    Jd, sya sangat berharap bahwa Pak Putra akan membahas selengkap-lengkapnya masalah translasi valuta asing ini sesegera mungkin, yang pastinya akan sangat membantu proses penyelesaian tgs akhr saya. (Buku2 tentang translasi yg prnah sya baca slama ini agak sulit saya mengerti, mendapatkan buku2 yg lain pun agak susah).

    And d last, THANKS lg bwt Pak Putra.
    Smoga sukses trus & blog-nya mkin berkemang :D

    ReplyDelete
  2. Pada tanggal pembelian (28 Pebruari) :

    [Debit] : Pembelian = Rp 9,000,000,-
    [Kredit] : Hutang Dagang = Rp 9,000,000,-

    Pada saat tutup buku fiskal (20 Maret) :
    Nilai tukar telah berubah, rupiah terdepriasi sebesar Rp 100,- / 1 USD, sehingga perusahaan mengalami kerugian sebesar Rp 100 x 1000 = Rp 100,000. Ini diakui sebagai kerugian kurs, dan disesuaikan dengan jurnal :

    [Debit] : Kerugian (Selisih) Kurs = Rp 100,000,-
    [Credit] : Hutang Dagang = Rp 100,000,-


    Sedangkan pada saat hutang jatuh tempo :
    Rupiah terdepresiasi Rp 200,-/1 USD dibandingkan saat pembelian dilakukan, Jurnal atas pelunasan hutang ini menjadi :

    [Debit] : Hutang Dagang = Rp 9,000,000,-
    [Debit] : Kerugian (selisih) Kurs = Rp 200,000,-
    [Credit] : Kas = Rp 9,200,000,-

    Jika seperti ini jurnal nya bukannya Hutang Dagang masih ada saldo kredit Rp.100.000...??? Mohon Penjelasannya....

    ReplyDelete
  3. Pada tanggal pembelian (28 Pebruari) :

    [Debit] : Pembelian = Rp 9,000,000,-
    [Kredit] : Hutang Dagang = Rp 9,000,000,-

    Pada saat tutup buku fiskal (20 Maret) :
    Nilai tukar telah berubah, rupiah terdepriasi sebesar Rp 100,- / 1 USD, sehingga perusahaan mengalami kerugian sebesar Rp 100 x 1000 = Rp 100,000. Ini diakui sebagai kerugian kurs, dan disesuaikan dengan jurnal :

    [Debit] : Kerugian (Selisih) Kurs = Rp 100,000,-
    [Credit] : Hutang Dagang = Rp 100,000,-


    Sedangkan pada saat hutang jatuh tempo :
    Rupiah terdepresiasi Rp 200,-/1 USD dibandingkan saat pembelian dilakukan, Jurnal atas pelunasan hutang ini menjadi :

    [Debit] : Hutang Dagang = Rp 9,000,000,-
    [Debit] : Kerugian (selisih) Kurs = Rp 200,000,-
    [Credit] : Kas = Rp 9,200,000,-

    Jika Jurnalnya demikian bukankah saldo hutang dagang masih ada Saldo kredit Rp.100.000,- Mohon penjelasannya...?

    ReplyDelete
  4. To: Anonymous

    Tidak. Hutang aslinya kan tetap hanya $1000, sedangkan perubahan nilai Rp adalah karena translasi(bukan karena transaksi) akibat nilai tukar Rp terhadap USD terus berubah-ubah.

    Jurnal pada penutupan tahun takwim (20 maret) yang nilainya Rp 100,000adalah pengakuan hutang dagang di buku fiskal, bukan di buku komersial.

    ReplyDelete
  5. O maksudnya jurnal saat tutup buku 20 Maret bukan utk posting ke buku besar komersial ya?

    ReplyDelete
  6. mungkin yang perlu dijelaskan bahwa ada reverse jurnal pada awal tahun untuk jurnal tutup buku fiskal (20 maret). kalau nggak membingungkan logika akuntansi, sebab jelas masih tersisa hutang dagang sebesar Rp 100,000 karena telah tercatat di hutang dagang per tanggal 20 Maret. Coba cek lagi..

    ReplyDelete
  7. Pa, ada artikel lain ttg HEDGING?
    Mohon di update atau contoh laen ttg hedging..

    Thx

    Caca

    ReplyDelete
  8. pak saya mau nanya ttg psak 14... bgmana klo ada hedging untuk biaya pembelian pencatatannya?? klo ngak bisa hedging gmn??? situasi apa yg bwt kt ngak bisa hedging?? trus menurut ias 2 gmn ttg ini??? knp dihapus?? kalo dipindahin dipindahinke mana ya peraturannya??

    ReplyDelete
  9. pak saya mau nanya ttg psak 14... bgmana klo ada hedging untuk biaya pembelian pencatatannya?? klo ngak bisa hedging gmn??? situasi apa yg bwt kt ngak bisa hedging?? trus menurut ias 2 gmn ttg ini??? knp dihapus?? kalo dipindahin dipindahinke mana ya peraturannya??

    ReplyDelete
  10. Apakah jurnal translasi hanya dilakukan untuk lap fiskal ? Bukankah sebelumnya dikatakan bahwa pada saat pelaporan harus disesuaikan dengan kurs neraca ? Berarti translasi karena kurs ini tidak perlu dilakukan di komersial ? Dan yang ditranslasi hanya kewajibannya saja ?

    ReplyDelete
  11. Bagaimana kurs yang diakui pada saat transaksi tersebut apakah menggunakan kurs tengah BI pada tanggal transaksi atau kurs pajak pada tanggal transaksi?

    Jika perusahaan mengakui penjualan dengan kurs pajak, apakah secara akuntansi sesuai dengan PSAK hal tersebut tepat?

    Mohon petunjuknya ya pak..
    Terima Kasih

    ReplyDelete

Feel free to leave a comment :)

Accounting (Akuntansi), Financial (Keuangan) & Taxation (Perpajakan). Didedikasikan bagi mereka yang membutuhkan artikel, tips, Case study, spreadsheet & tools yang bersifat aplikatif.


Google
 

K A T E G O R I

Account Receivable (4) Accounting (93) Accounting Case Study (15) Accounting Certification (1) Accounting Contest (1) Accounting For Manager (4) Accounting Software (2) Acquisition (5) Advance accounting (6) Aktiva Tetap (16) Akuisisi (5) Akuntansi Biaya (3) Akuntansi Dasar (2) Akuntansi Management (4) Akuntansi Pajak (9) Akuntansi Translasi (2) Announcement (6) archiving (1) ARTICLES (4) ARTIKEL (91) Audit Kinerja (1) Auditing (3) Balance sheet (1) Bank (1) Basic Accounting (1) Bea Cukai (4) Bea Masuk (7) Calculator (2) Capital (1) Career (2) Cash (1) Cash Flow (3) Certification (1) COGS (11) Contest (1) Cost (18) Cost Analysis (12) CPA (2) CPA EXAM (1) Credit (1) Credit Policy (1) Current Asset (1) Data (1) Discount (1) Diskon (1) Duty (1) Expense (4) Export - Import (15) FASB (1) Finance (8) FINANCIAL (16) Financial Control (10) Foreign Exchange Rate (1) Form (2) FOTO (1) FRAUD (2) Free Download (9) Freebies (6) GAAP (1) GAJI (3) Garansi (1) Gift (1) Goodwill (1) Hotel (1) IFRS (1) Import (5) Import Duty (7) International Accounting (1) Investasi (1) Job Vacant (1) Kas (6) Kas Bank (3) Kas Kecil (1) Kasus Akuntansi (3) Kasus Legal (2) Kasus Pajak (6) Keuangan (3) Komentar (1) Konsolidasi (4) Laba-Rugi (1) Lain-lain (15) LANDING COST (1) Laporan Arus Kas (2) Laporan Keuangan (9) Lean Accounting (1) Lean Concept (1) Lean Manufacturing (1) Legal (1) Lowongan Kerja Accounting (2) MA Accounting (3) Management Accounting (5) Merger (4) Miscellaneous (2) Modal (1) neraca (1) PAJAK (24) payroll (1) Pembelian (2) Pemberitahuan (3) Pendapatan (2) Pengakuan Pendapatan (1) Pengarsipan (1) Pengendalian (6) Pengendalian Keuangan (15) PENGGELAPAN (1) Penjualan (1) Perlakuan akuntansi (2) Petty Cash (1) PHOTO (1) Piutang (1) PPH PASAL 21 (11) PPh Pasal 22 (3) PPh Pasal 26 (2) PPn (2) PPn Import (5) Professi Akuntan (1) Profit-Lost (1) PURCHASE (2) Quiz (1) Rabat (1) Rebate (1) Retur (1) Return (1) Revenue (4) Review (1) Sales (2) SERIE ARTIKEL (1) Sertifikasi (1) Shareholder (1) Shipping Agent (1) Shipping Charge (1) Soal dan Jawaban CPA (1) SPI (1) Spreadsheet Accounting (5) Spreadsheet Gratis (4) system pengendalian (1) system pengendalian gaji (1) Taxation (18) Template (2) Tip n Tricks (4) TIPS AND TRICKS (38) Tools (8) Tutup Buku (1) Ujian CPA (1) UPAH (3) update situs (2) USAP (2) Utilities (1) Video Tutor (1) warranty (1) What Is New (7)

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Mengapa perlu men-subscribe ?
Dengan men-subscribe, anda akan menerima pemberitahuan setiap kali ada update terbaru (artikel, tips, free download template, files, dll) dari ACCOUNTING, FINANCE & TAXATION langsung di INBOX e-mail anda.
Bagaimana caranya mensubscribe ?=> Ketik e-mail address anda (pada kolom yang disediakan diatas)=> Klik tombol "subscribe"=> Setelah men-klik tombol subscribe, akan muncul window (halaman) baru=> Pada halaman baru tersebut, masukkan kode validasi yang disediakan=> Klik tombol "subscribe"=> Masuk ke inbox email anda, lalu klik link verifikasi yang disediakan=> Selesai